Rabu, 27 April 2016

TASAWUF



BAB I
PENDAHULUAN

            Menurut al-Dzahabi, istilah sufi mulai dikenal pada abad ke-2 Hijriyah, tepatnya tahun 150 H. Orang pertama yang dianggap memperkenalkan istilah ini kepada dunia Islam adalah Abu Hasyim al-Sufi atau akrab disebut juga Abu Hasyim al-Kufi. Tetapi pendapat lain menyebutkan bahwa tasawuf baru muncul di dunia Islam pada awal abad ke-3 hijriyah yang dipelopori oleh al-Kurkhi, seorang masihi asal Persia. Tokoh ini mengembangkan pemikiran bahwa cinta (maẖabbah) kepada Allah adalah sesuatu yang tidak diperoleh melalui belajar, melainkan karena faktor pemberian (mauhibah) dan keutamaan dari-Nya. Adapun tasawuf baginya adalah mengambil kebenaran-kebenaran hakiki. Tesis ini kemudian menjadi suatu asas dalam perkembangan tasawuf di dunia Islam. Beberapa tokoh lainnya yang muncul pada periode ini adalah al-Suqti (w. 253 H), al-Muhasibi (w. 243 H) dan Dzunnun al-Misri (w. 245 H).
            Tasawuf kemudian semakin berkembang dan meluas ke penjuru dunia Islam pada abad ke-4 H dengan sistem ajaran yang semakin mapan. Belakangan, al-Ghazali menegaskan tasawuf atau  maẖabbatullah (cinta kepada Allah) sebagai keilmuan yang memiliki kekhasan tersendiri di samping filsafat dan ilmu kalam. Pada abad ke-4 dan ke-5 hijriyah inilah konflik pemikiran terjadi antara kaum sufi dan para fuqaha’. Umumnya, kaum sufi dengan berbagai tradisi dan disiplin spiritual yang dikembangkannya dipandang oleh para fuqaha’ sebagai kafir, zindiq dan menyelisihi aturan-aturan syari’at. Konflik ini terus berlanjut pada abad berikutnya, terlebih lagi ketika corak falsafi masuk dalam tradisi keilmuan tasawuf dengan tokoh-tokohnya seperti Ibn al-’Arabi dan Ibn al-Faridh pada abad ke-7 H. Realitas inilah yang kemudian menimbulkan pembedaan dua corak dalam dunia tasawuf, yaitu antara tasawuf ‘amali (praktis) dan tasawuf nazari (teoritis). Tasawuf praktis atau yang disebut juga tasawuf sunni atau akhlaki merupakan bentuk tasawuf yang memagari diri dengan al-Qur’an dan al-Hadits secara ketat dengan penekanan pada aspek amalan dan mengaitkan antara ahwal dan maqamat. Sedangkan tasawuf teoritis atau juga disebut tasawuf falsafi cenderung menekankan pada aspek pemikiran metafisik dengan memadukan antara filsafat dengan ketasawufan.
BAB II
PEMBAHASAN

A.      PENGERTIAN TASAWUF
secara etimologis tasawuf diambil dari kata “Suffah” yaitu sebuah tempat di mesjid Rasulullah Saw. (Mesjid Nabawi) yang dihuni oleh sekelompok sahabat yang hidup zuhud yang konsentrasi beribadah kepada Allah sambl menimba ilmu dari Rasulullah. Teori kedua, menyatakan bahwa tasawuf diambil dari kata “sifat” dengan alasan bahwa para sufi suka membahas sifat-sifat Allah sekaligus mengaplikasikan sifat-sifat Allah tersebut dalam perilaku mereka sehari-hari. Teori ketiga berpendapat bahwa kata “tasawuf” daiambil dari akar kata “sufah” artinya selembar bulu, sebab para sufi dihadapan Tuhannya merasa begaikan selembar bulu yang terpisah dari kesatuannya yang tidak mempunyai nilai apa-apa. Teori keempat menyatakan bahwa “tasawuf” diambil dari kata “shofia” yang artinya al-hikmah (bijaksana) sebab para sufi selalu mencari hikmah ilahiyah dalam kehidupannya. Teori kelima, sebagaimana dikemukakan oleh al-Busti seorang fakar tasawuf, menyatakan bahwa taswuf berasal dari kata “as-safa” yang artinya suci, bersih dan murni, sebab para sufi membersihkan jiwanya hingga berada dalam kondisi suci dan bersih. Ada juga teori yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari akar kata “suf” yang artinya bulu domba (wool), dengan argumentasi wool kasar yang terbuat dari bulu binatang sebagai tanda kesederhanaan hidup mereka.
Diantara berbagai pendapat tenang asal usul “taswuf” menrut Ahmad as-Sirbasi, pendapat al-Bustilah yang paling kuat dan rajih, sebab kenyataannya tasawuf itu adalah upaya pensucian hati supaya dekat dengan Allah.
Dilihat dari tujuannya, seperti telah disinggung di atas, tasawuf adalaha proses pendekatan diri kepada Allah dengan cara mensucikan hati (tashfiat al-Qalbi).
secara Terminologis Menurut Muhammad bin Ali al-Qasab, guru Imam Junaidi al-Bagdadi, tasawuf adalah akhlak mulia yang nampak di zaman yang mulia dari seorang manusia mulia bersama kaum yang mulia.
Sedang menurut al-Junaidi al-bagdadi (W. 297 H) tasawuf adalah :
“Engkau ada bersama Allah tanpa ‘alaqah (tanpa perantara)”.
Usman al-Makki berpendapat bahwa tasawuf adalah keadaan dimana seorang hamba setiap waktu melakukan perbuatan (amal) yang lebih baik dari waktu sebelumnya.
Sirri as-Saqati (W. 251 H) berkata : “Tasawuf adalah suatu nama bagi tiga makna : yakni (1) nur ma’rifat nya tidak memadamkan cahaya kewaraannya, (2) tidak berbicara tentang ilmu batin yang bertentangan dengan makna zahir al-Kitab atau sunnah, dan (3) tidak terbawa oleh karomahnya untuk melanggar larangan Allah”.
Syekh Abdul Qodir al-Jilani berpendapat bahwa taswuf adalah mensucika hati dan melepaskan nafsu dari pangkalnya dengan kholwah, riyadoh dan terus-menerus berdzikir dengan dilandasi iman yang benar, mahabbah, taubat dan ikhlas.
Sedangkan ilmu tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui keadaan jiwa manusia, terpuji atau tercela, bagaimana cara-cara mensucikan jiwa dari berbagai sifat yang tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji dan bagaimana cara mencapai jalan menuju Allah.
Tasawuf menurut pengertian bahasa Arab dalam bahasa arab istilah Tasawuf terdiri atas empat huruf yaitu Ta’, Shad, Waw dan Fa’. Huruf Ta’ berarti Taubah. Taubat adalah langkah pertama dalam perjalanan menuju Allah. Taubat ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu zahir dan batin langkah zahir dalam bertaubat dilakukan melalui perkataan, perbuatan dan perasaan, yaitu dengan cara membersihkan diri dari dosa dan noda, lebih banyak mentaati perintah Allah berbuat dan berniat tanpa terlebih dahulu muncul sifat khawf (takut) dan raja’ (harapan) dalam diri orang yang menjalani Tasawuf.
Taubat ruhani atau taubat batin peranannya ada di dalam hati. adalah membersihkan dan menyucikan hati dari keinginan-keinginan duniawi yang diimbangi dengan kesungguhan serta penuh harap untuk mencapai dan mengenal Allah.
Shad, tingkatan ini juga terbagi menjadi dua langkah yang perlu dilaksanakan. Pertama, langkah menuju pembersihan hati. Kedua, langkah menuju pusat rahasia.
Waw bermakna wilayah (kewalian), yaitu keadan kudus dan hening yang ada pada jiwa kekasih Allah dan Waliyullah. Keadaan ini tergantung pada kesucian seseorang.
Fa’ yang melambangkan fana’, yaitu penghapusan dan pengosongan diri dari segala rupa dan bentuk. Kekosongan inilah yang dituntut ada dalam diri manusia. Tegasnya, kebatilan (kepalsuan) akan musnah bila sifat-sifat ketuhanan datang ke dalam diri seseorang. Jika sifat dan pikiran tentang dunia yang sangat banyak itu lenyap dari hati seseorang, keesaan dan kesatuan (dengan Allah) akan menggantikannya.

B.       PERKEMBANGAN TASAWUF
Secara keilmuan, tasawuf adalah disiplin ilmu yang baru dalam syari’at Islam, demikian menurut Ibnu Khaldun. Adapaun asal-usul tasawuf menurutnya adalah konsentrasi ibadah kepada Allah, meninggalkan kemewahan dan keindahan dunia dan menjauhkan diri dari akhluk. Ketika kehidupan materialistik mulai mencuat dalam peri kehidupan masyarakat muslim pada abad kedua dan ketiga hijriyyah sebagai akibat dari kemajuan ekonomi di dunia Islam, orang-orang yang konsentrasi beribadah dan menjauhkan diri dari hiruk pikuknya kehidupan dunia disebutlah kaum sufi.
Berbeda dengan Ibnu Khaldun, Muhammad Iqbal dalam bukunya “Tajdid al-Fikr ad-Dini al-Islam” berpendapat bahwa tasawuf telah ada semenjak Nabi. Riyadoh Diniyyah telah lama menyertai kehidupan manusia sejak awal-awal Islam bahkan kehidupan ini semakin mengental di dalam sejarah kemanusiaan.
Menurut sebagian fakar, Imam Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang memunculkan istilah taswuf. Menurut yang lain Salman al-Farisi. Menurut pendapat yang lain Hudzaefah bin al-Yaman sebab Hasan Basri (tokoh sufi di abad kedua Hijriyyah) berguru kepada Hudzefah.

C.      AKAR TASAWUF
Akar-akar tasawuf dalam Islam merupakan penjabaran dari ihsan. Ihsan sendiri merupakan bagian dari trilogi ajaran Islam. Islam adalah satu kesatuan dari iman, islam dan ihsan. Islam adalah penyerahan diri kepada Allah secara zahir, iman adalah I’tikad batin terhadap hal-hal gaib yang ada dalam rukun iman, sedangkan ihsan adalah komitmen terhadap hakikat zahir dan batin.
Islam, iman dan ihsan adalah landasan untuk melakukan suluk dan taqqarub kepada Allah. ‘Iz bin Abdissalam berpendapat bahwa sistematika keberagamaan bagi kaum muslimin, yang pertama adalah Islam. Islam merupakan tingkat pertama beragama bagi kaum awam. Iman adalah tingkatan pertama bagi hati orang khusus kaum mukminin, sedangkan ihsan adalah tingkatan pertama bagi ruh kaum muqarribin.

D.      MAKNA TASAWUF FALSAFY
            Tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang ajaran-ajaranya memadukan antara visi intuitif dan visi resional. Terminology filosofis yang digunakan berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya, namun orisinalitasnya sebagai tasawuf tetap tidak hilang. Walaupun demikian tasawuf filosofis tidak bisa di pandang sebagai filsafat, karena ajaran daan metodenya di dasarkan pada dasar dzauq, dan tidak pula bisa di kategorikan pada tasawuf (yang murni) karena sering di ungkapkan dengan bahasa filsafat.
            Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang didasarkan kepada gabungan teori-teori tasawuf dan filsafat atau yang bermakana mistik metafisis, karakter umum dari tasawuf ini sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Al-Taftazani bahwa tasawuf seperti ini: tidak dapat dikatagorikan sebagai tasawuf dalam arti sesungguhnya, karena teori-teorinya selalu dikemukakan dalam bahasa filsafat, juga tidak dapat dikatakan sebagai filsafat dalam artian yang sebenarnya karena teori-teorinya juga didasarkan pada rasa. Hamka menegaskan juga bahwa tasawuf jenis tidak sepenuhnya dapat dikatakan tasawuf dan begitu juga sebaliknya.
Tasawuf seperti ini dikembangkan oleh ahli-ahli sufi sekaligus filosof. Oleh karena itu, mereka gemar terhadap ide-ide spekulatif. Dari kegemaran berfilsafat itu, mereka mampu menampilkan argumen-argumen yang kaya dan luas tentang ide-ide ketuhanan.
Sehingga dalam upaya mengungkapkan pengalaman rohaninya, para shufi falsafi sering menggunakan ungkapan-ungkapan yang samar, yang sering di kenal dengan syathahiyyat, yaitu suatu ungkapan yang sulit difahami, yang seringkali mengakibatkan kesalahpahaman pihak luar, dan menimbulkan tragedy.

E.       CIRI-CIRI TASWUF FALSAFY
Adapun yang menjadi ciri-ciri Umum Tasawuf Falsafi antara lain:
1.      Adanya latihan rohani yang didasakan pada rasa (dzauq), Intuisi, dan introspeksi diri yang timbul darinya
2.      Hakekat yang tersingkap dari alam ghaib
3.      Peristiwa dalam alam berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan
4.      Ungkapan yang berbentuk samar
Sedangkan yang menjadi ciri-ciri khusus dari Tasawuf Falsafi antara lain :
1.      Mengkonsepsikan ajaran-ajaran dengan menggabungkan antara rasional dan perasaan
2.      Mendasarkan pada latihan-latihan ruhaniah (riyadah)
3.      Iluminasi atau bayangan  sebagai metode untuk mengatahui berbagai hakekat, yang menurut penganutnya bisa dicapai dengan fana’
4.      Selalu menyamarkan ungkapan-ungkapan tentang hakekat realitas-realitas dengan berbagai simbol atau terminologi 
a.         Ajarannya samar-samar akibat banyaknya ungkapan dan peristilahan khusus yang hanya bisa dipahami pada tasawuf  jenis ini
b.        Metode ajarannya didasarkan pada rasa (dzauq) dan rasional dengan berdasarkan akal.
c.         Ajaran-ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa-bahasa dan terminologi filsafat, dan cenderung mendalam ke dalam panteisme ( teori yang berpendapat bahwa segala sesuatu merupakan perwujudan Tuhan)
d.        Di dasarkan pada latihan-latihan ruhaniyah (riyadah), yang dimaksudkan sebagai peningkatan moral untuk mencapai kebahagiaan
e.         Iluminasi sebagai metode untuk mengetahui berbagai hakekat realitas

F.       OBJEK TASWUF FALSAFY
Falsafat yang mendasari taswuf adalah Allah swt. Zat yang bersifat rohani atau imateri dan Maha Suci. Zat yang demikian tidak bisa didekati kecuali oleh yang bersifat rohani pula dan dalam pada itu harus pula suci, maka yang akan dapat mendekatkan diri kepada Allah adah ruh manusia, dan bukan tubuhnya, yang mempunyai hawa nafsu itu.
Ruh sebelum masuk ketubuh memang suci, tetapi setelah bersatu dengan tubuh bisa, bahkan acapkali, menjadi kotor karena digoda hawa nafsu tubuh. Maka agar bisa mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Suci, Ruh manusia harus terlebih dahulu disucikan. Sufi-sufi besar telah merintis jalan untuk penyucian jiwa itu yang dikenal dengan nama Thoriqoh, jalan, yang mempunyai maqamat, stasion-stasion. Di stasion-stasion inilah, ornag yang ingin menjadi sufi membersihkan diri dari kotoran-kotoran yang melekat padanya.
Ibnu Khaldun berendapat bahwa objek utama yang menjadi perhatian tasawuf falsafi ada empat perkara. Keempat perkara itu adalah sebagai berikut:
1.        Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta intropeksi diri yang timbul dari dirinya.
2.        Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, misalnya sifat-sifat rabbani, ‘arasy, kursi, malaikat, wahyu kenabian, ruh, hakikat realitas segala yang wujud, yang gaib maupun yang nampak, dan susunan yang kosmos, terutama tentang penciptanya serta penciptaannya.
3.        Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang brepengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.
4.        Penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syatahiyyat) yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa mengingkarinya, menyetujui atau menginterpretasikannya.

G.      CONTOK TASWUF FALSAFY
Diantara contoh-contoh Tasawuf Falsafi adalah sebagai berikut:
Mistical paradigma obyeknya taswuf seperti :
a.       Cinta, rindu dll
b.      Mukjizat
c.       Santet, pelet (sangat berpengaruh terhadap masyarakat seperti para artis yang ingin dikenal dengan memasang susuk di tubuhnya)

H.      TOKOH TASAWUF FALSAFI DAN AJARANNYA
Diantara Tokoh-tokoh Tasawuf Falsafi  Abu Yazid al-busthami, al-Hallaj, Ibn Arabi, dan sebagainya.
1.      Abu Yazid al-Busthami mempunyai teori al-Ittihad, yaitu suatu tingkatan dalam tasawuf di mana seorang shufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, suatu tingkatan dimana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi deengan kata-kata : “hai aku”. Dalam al-Ittihad identitas telah menjadi satu.
Salah satu Syathiyat yang di ungkapan al-Busthami ialah :
a.         “tiada tuhan selain aku, maka sembahlah aku”.
b.         “maha suci aku, maha suci aku, alangkah agungnya keadaan-ku”.
c.         “tidak ada sesuatu dalam bajuku ini kecuali Allah”.
2.      Tokoh lainnya ialah al-Hallaj dengan ajaran al-Hululnya, yaitu suatu faham yang mengatakan bahwa tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu mengambil tempat (hulul) di dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan.
      Menurut al-Hallaj dalam diri manusia terdapat dua unsur, yakni unsur Nasut (kemanusiaan), dan unsure Lahut (ketuhanan), karena itu persatuan antara tuhan dan manusia bisa terjadi dan dengan persatuan itu mengambil bentuk hulul.
      Al-Hallaj juga mengungkapkan syathahiyat sebagaimana di ungkapkan al-Busthami, seperti : “aku adalah yang haq”. Karena ungkapannya yang di anggap menyimpang dari tauhid inilah, dan tuduhan bekomplot dengan syi’ah Qaramithah, maka dia di jebloskan ke dalam keputusan pengadilan fuqaha’ yang sepihak dan berkolusi dengan pemerintahan al-Muqtadir Billah. Dia di jatuhi hukuman mati.
3.      Teori Hulul ini di kembangkan labih jauh oleh Ibn Arabi dengan teori Wahdatul Wujud. Dalam teori ini, Ibn Arabi merubah Nasut dalam hulul menjadi al-Khaliq dan Lahut menjadi al-Haq. Kedua unsure tersebut pasti ada pada setiap makhluk yang ada ini , sebagai aspek batin, Ibn Arabi mengungkapkan : “ maha suci dzat yang menciptakan segala sesuatu, dan dia adalah essensinya sendiri”.
      Paham yang di bawa oleh para shufi falsafi membawa pro dan kontra, karena perbedaan latar belakang sudut tinjauan dan pisau analisianya. Dalam dunia tasawuf di kenal istilah fana’ dan baqa’ sebagaimana telah di uraikan di depan. Ketika seseorang telah mencapai keadaan demikian, seorang shufi telah mencapai puncak tujuan yang di inginkannya, yakni ma’rifat dan hakikat, sehingga muncul kesadaran bahwa al-ma’rifah (pengetahuan), al-Arif (orang yang mengetahui), dan al-Ma’ruf (yang di ketahui/tuhan) adalah satu.
      Orang yang telah mencapai ma’rifat, hatinya bersih, dia akan merenungi sifat-sifat tuhan, bukan pada essensi-Nya, karena dalam ma’rifat masih ada sia-sia kegandaan yang masih tertinggal. Sifat utama Tuhan adalah ketuhanan dan kesatuan ilahi merupakan prinsip ma’rifat yang pertama dan yang terakhir.
      Tuhan bagi shufi difahami sebagai Dzat yang esa yang mendasari seluruh peristiwa. Prinsip ini membawa konsekuensi yang ekstrim. Apabila tiada sesuatu yang mewujudkan selain Tuhan, maka seluruh alam pada dasarnya adalah satu dengan-Nya, apakah ia di pandang emanasi yang berkembang dari pada-Nya, tanpa mengganggu ke esaan-Nya, sebagaimana halnya bekas sinar matahari atau apakah ia berlaku seperti cermin dengan mana sifat-sifat Allah dipancarkan. Konsep inilah yang mendasari para shufi falsafi mempunyai pandangan tersebut di atas.
      Dengan analisis seperti ini, maka hasil yang diperoleh oleh para shufi falsafi sebagaimana telah di ungkapkan adalah sesuatu yang wajar saja, dan suatu konsekuensi logis. Namun apabila didekati dengan fiqih dan ilmu kalam, adalah jenis hal tersebut di anggap suatu yang menyimpang, karena antara khalik dan makhluk, antara ‘abid dan ma’bud tidak bisa di satukan.

I.         INTRENALISASI TASWUF DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
a.    pembinaan aspek moral;
b.    ma’rifatullah melalui metode kasyf al-hijab
c.    Metode pengenalan dan hubungan kedekatan antara Tuhan dan makhluk. Dekat dalam hal ini dapat berarti: merasakan kehadiran-Nya dalam hati, berjumpa dan berdialog dengan-Nya, ataupun penyatuan makhluk dalam iradah Tuhan.



BAB III
SIMPULAN

Dari materi-materi yang dijelaskan di atas mengenai pembahasan tasawuf falsafi, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.        Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma’rifat) dengan pendekatan rasional (filsafat) hingga menuju ketingkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wahdat al- wujud (kesatuan wujud).
2.        Tokoh-tokoh tasawuf falsafi serta ajaran-ajarannya antara lain yaitu:
a.      Abu Yazid al-Busthami al-Ittihad.
b.      al-Hallaj al-Hululnya.
c.       Ibn Arabi Wahdatul Wujud.
Jadi yang menjadi karakteristik dari tasawuf falsafi adalah ajarannya lebih mengarah pada teori-teori yang rumit dan memerlukan pemahaman yang lebih mendalam, mengedepankan akal, ajarannya memadukan antara visi mistis dan rasional.




DAFTAR PUSTAKA

Thohir Ajid “Disertasi historisitas dan signifikasi kitab manaqib syekh abdul qodir         al-jilany dalam hitoriografi islam :329-331.
Syekh Abdul Qadir Al-Jilani Rahasia Sufi Pustaka Sufi, 2006: 88-93.
Alba Cecep, Cahaya Tasawuf Gwika Wahana Karya Grafika, 2009: 1-4, 8-12.
As-Sarraj Abu Nashr, Al-Luma’ Rujukan Lengkap Ilmu Tasawuf Risalah Gusti, 2009: 53.
Nasution Harun, Thoriqot Qodiriyyah Naqsyabandiyyah. Sejarah asal-usul dan perkembangannya, IAILM, 1990: xvii, 3-21.