Rabu, 27 April 2016

SUFI SUMATRA dan KALIMANTAN



A.      SYEKH ABDUS SAMAD AL-PALIMBANI (SUMATERA)
1.    Biografi Abdus Shamad al-Palimbani
Abdus Samad al-Palimbani dilahirkan pada 1116 H/1704 M, di Palembang. Tentang nama lengkap Syeikh Al-Palimbani,  yang tercatat dalam sejarah, ada tiga versi nama. Yang pertama, seperti yang diungkapkan dalam Ensiklopedia Islam, beliau bernama Abdus Samad Al-Jawi Al-Palimbani. Versi kedua, merujuk pada sumber-sumber Melayu, sebagaimana ditulis oleh Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Mizan: 1994), ulama besar ini memiliki nama asli Abdul Samad bin Abdullah Al-Jawi Al-Palembani. Sementara versi terakhir, tulisan Rektor UIN Jakarta, bahwa apabila merujuk pada sumber-sumber Arab, nama lengkap Syeikh Al-Palimbani ialah Sayyid Abdus Al-Samad bin Abdurrahman Al-Jawi. Dari ketiga nama itu yang diyakini sebagai nama Abdul Samad, Azyumardi berpendapat bahwa nama terakhirlah yang disebut Syeikh Abdul Samad.
Perbedaan pendapat mengenai nama ulama ini dapat difahami mengingat sejarah panjangnya sebagai pengembara, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dalam menuntut ilmu. Apabila dilihat latar belakangnya, ketokohan Al-Palimbani sebenarnya tidak jauh berbeda dari ulama-ulama Nusantara lainnya, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin Al-Raniri, Abdul Rauf Singkel, Yusuf Al-Maqassari.
Dari segi silsilah, nasab Syeikh Al-Palimbani berketurunan Arab, dari sebelah ayah. Syeikh Abdul Jalil bin Syeikh Abdul Wahhab bin Syeikh Ahmad Al-Mahdani, ayah Al-Palimbani, adalah ulama yang berasal dari Yaman yang dilantik menjadi Mufti negeri Kedah pada awal abad ke-18. Sementara ibunya, Radin Ranti, adalah wanita Palembang yang diperisterikan oleh Syeikh Abdul Jalil, setelah sebelumnya menikahi Wan Zainab, puteri Dato Sri Maharaja Dewa di Kedah.
2.    Pendidikan Abdus Shamad al-Palimbani
Syeikh Abdus Shamad mendapat pendidikan dasar dari ayahnya sendiri, Syeikh Abdul Jalil, di Kedah. Kemudian Syeikh Abdul Jalil mengantar semua anaknya ke pondok di negeri Patani. Zaman itu memang di Patani lah tempat menimpa ilmu-ilmu keislaman sistem pondok yang lebih mendalam lagi.
Mungkin Abdus Shamad dan saudara-saudaranya Wan Abdullah dan Wan Abdul Qadir telah memasuki pondok-pondok yang terkenal, antaranya ialah Pondok Bendang Gucil di Kerisik, atau Pondok Kuala Bekah atau Pondok Semala yang semuanya terletak di Patani.
Di antara para gurunya di Patani, yang dapat diketahui dengan jelas hanyalah Syeikh Abdur Rahman bin Abdul Mubin Pauh Bok. Demikianlah yang diceritakan oleh beberapa orang tokoh terkemuka Kampung Pauh Bok itu (1989), serta sedikit catatan dalam salah satu manuskrip terjemahan Al-‘Urwatul Wutsqa, versi Syeikh Abdus Shamad bin Qunbul al-Fathani yang ada. Kepada Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok itulah sehingga membolehkan pelajaran Syeikh Abdus Shamad al-Palimbani dilanjutkan ke Mekah dan Madinah. Walau bagaimana pun mengenai Syeikh Abdus Shamad al-Palimbani belajar kepada Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok al-Fathani itu belum pernah ditulis oleh siapa pun, namun sumber asli didengar di Kampung Pauh Bok sendiri.
Sistem pengajian pondok di Patani pada zaman itu sangat terikat dengan hafalan matan ilmu-ilmu Arabiyah yang terkenal dengan ‘llmu Alat Dua Belas’. Dalam bidang syariat Islam dimulai dengan matan-matan fiqh menurut Mazhab Imam Syafi’i. Di bidang tauhid dimulai dengan menghafal matan-matan ilmu kalam/usuluddin menurut faham Ahlus Sunah wal Jamaah yang bersumber dari Imam Syeikh Abul Hasan al-Asy’ari dan Syeikh Abu Mansur al-Maturidi.
Beliau juga mempelajari ilmu sufi daripada Syeikh Muhammad bin Samman, selain mendalami kitab-kitab tasawuf daripada Syeikh Abdul Rauf Singkel dan Samsuddin Al-Sumaterani, kedua-duanya dari Aceh. Oleh sebab dari kecil beliau lebih banyak mempelajari ilmu tasawuf, maka dalam sejarah telah tercatat bahawa beliau adalah ulama yang memiliki kepakaran dan keistimewaan dalam cabang ilmu tersebut.
Setelah Syeikh Abdus Shamad banyak hafal matan lalu dilanjutkan pula dengan penerapan pengertian yang lebih mendalam lagi. Sewaktu masih di Patani lagi, Syeikh Abdus Shamad telah dipandang alim, kerana beliau adalah sebagai kepala thalaah (tutor), menurut istilah pengajian pondok. Namun ayahnya berusaha mengantar anak-anaknya melanjutkan pelajarannya ke Makkah. Memang merupakan satu tradisi pada zaman itu walau bagaimana banyak ilmu pengetahuan seseorang belumlah di pandang memadai, jika tak sempat mengambil barakah di Mekah dan Madinah kepada para ulama yang dipandang Wali Allah di tempat pertama lahirnya agama Islam itu.
3.    Abdus Shamad al-Palimbani Belajar Di Makkah
Orang tua Al-Palimbani kemudian menghantar anaknya itu ke Arab yaitu Makkah, dan Madinah. Tidak jelas, bilakah beliau diantar ke salah satu pusat ilmu Islam pada waktu itu. Setakat yang terakam dalam sejarah, beliau dikatakan menganjak dewasa ketika ´berhijrah´ ke tanah Arab. Di negeri barunya ini, beliau terlibat dalam masyarakat Jawa, dan menjadi teman seperguruan, menuntut ilmu dengan ulama Nusantara lainnya seperti Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdul Wahhab Bugis, Abdul Rahman Al-Batawi, dan Daud Al-Fatani. Walaupun beliau menetap di Mekah, tidka bermakna beliau melupakan negeri leluhurnya. Syeikh Al-Palimbani, menurut Azyumardi, tetap memberikan perhatian besar pada perkembangan sosial, politik, dan keagamaan di Nusantara.
Sejak perpindahannya ke tanah Arab itu, Syeikh Al-Palimbani mengalami perubahan besar berkaitan dengan intelektualitas dan spiritual. Perkembangan dan perubahan ini tidak terlepas dari proses ´pencerahan´ yang diberikan para gurunya. Beberapa gurunya yang masyhur dan berwibawa dalam proses tersebut, antara lain Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani, Muhammad bin Sulayman Al-Kurdi, dan Abdul Al-Mun´im Al-Damanhuri. Selain itu, tercatat juga dalam sejarah Al-Palimbani berguru kepada ulama besar, antaranya Ibrahim Al-Rais, Muhammad Murad, Muhammad Al-Jawhari, dan Athaullah Al-Mashri. Tidak sia-sia, perjuangannya menuntut ilmu di Masjidil Haram dan tempat-tempat lainnya, ´mengangkat´ dirinya menjadi salah seorang ulama Nusantara yang disegani dan dihormati di kalangan ulama Arab, juga Nusantara.
4.    Abdus Shamad al-Palimbani Mengkritik Tarekat yang Berlebihan
Meskipun mendalami tasawuf, tidak bermakna Syeikh Al-Palimbani tidak kritis. Beliau dikatakan kerap mengkritik kalangan yang mempraktikkan tarekat secara berlebihan. Beliau selalu mengingatkan akan bahaya kesesatan yang diakibatkan oleh aliran-aliran tarekat tersebut, khususnya tarekat Wujudiyah Mulhid yang terbukti telah membawa banyak kesesatan di Aceh. Untuk mencegah apa yang diperingatkannya itu, Syeikh Al-Palimbani menulis  intisari dua kitab karangan ulama dan ahli falsafah agung abad pertengahan, Imam Al-Ghazali, yaitu kitab Lubab Ihya´ Ulumud Diin (Intisari Ihya´ Ulumud Diin), dan Bidayah Al-Hidayah (Awal Bagi Suatu Hidayah). Dua karya Imam Al-Ghazali ini dinilainya secara ´moderat´ dan membantu membimbing mereka yang mempraktikkan aliran sufi.
Berkaitan dengan ajaran tasawufnya, Syeikh Al-Palimbani mengambil jalan tengah antara doktrin tasawuf Imam Al-Ghazali dan ajaran ´wahdatul wujud´ Ibnu Arabi; bahwa manusia sempurna (insan kamil) adalah manusia yang memandang hakikat Yang Maha Esa itu dalam fenomena alam yang serba aneka dengan tingkat makrifat tertinggi, sehingga mampu ´melihat´ Allah s.w.t sebagai ´penguasa´ mutlak.
Di Nusantara, khususnya di Indonesia, pengaruh Al-Palimbani dianggap cukup besar, khususnya berkaitan dengan ajaran tasawuf.
Banyak meriwayatkan cerita yang menarik ketika Sheikh Abdus Shamad berada di negerinya Palembang. Oleh karena rasa bencinya kepada Belanda, ditambah pula dengan peristiwa di atas kapal itu, beliau bertambah kecewa karena melihat pihak Belanda yang kafir telah memegang pemerintahan di lingkungan Islam dan tiada kuasa sedikit pun bagi Sultan.
Maka beliau merasa tidak betah untuk tinggal di Palembang walaupun beliau kelahiran negeri itu. Sheikh Abdus Shamad mengambil keputusan sendiri tanpa musyawarah dengan siapa pun, semata-mata memohon petunjuk Allah dengan melakukan sholat istikharah. Keputusannya, beliau mesti meninggalkan Palembang, kembali ke Mekah.
Lantaran anti Belanda, beliau tidak mau menaiki kapal Belanda sehingga terpaksa menebang kayu di hutan untuk membuat perahu bersama-sama orang-orang yang patuh sebagai muridnya. Walaupun sebenarnya beliau bukanlah seorang tukang yang pandai membuat perahu, namun beliau sanggup mereka bentuk perahu itu sendiri untuk membawanya ke Mekah. Tentunya ada beberapa orang muridnya mempunyai pengetahuan membuat perahu seperti itu.
Ini membuktikan Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani telah menunjukkan keteguhan pegangan, tawakal adalah merupakan catatan sejarah yang tidak dapat dilupakan.
5.    Penulis Produktif dan Karya-Karyanya
Karya Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani tidak sebanyak karya sahabatnya, Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani. Ini karena Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani memperoleh ilmu pengetahuan dalam usia muda dan umurnya juga panjang. Sedangkan Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani, maupun Sheikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari umumnya jauh lebih tua daripada Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani bahkan boleh dijadikan ayahnya.
Walau bagaimanapun, Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani dan Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari termasuk dalam klasifikasi pengarang yang produktif. Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari terkenal dengan fiqhnya yang berjudul Sabilul Muhtadin.
Sheikh Abdush Shamad al-Palimbani adalah yang paling menonjol di bidang tasawuf dengan dua buah karyanya yang paling terkenal dan masih beredar di pasaran kitab sampai sekarang Hidayatus Salikin dan Siyarus Salikin.
6.    Karya Tulis Abdus Shamad al-Palimbani
1.         Zahratul Murid fi Bayani Kalimatit Tauhid, 1178 H/1764 M.
2.         Risalah Pada Menyatakan Sebab Yang Diharamkan Bagi Nikah, 1179 H/1765 M.
3.         Hidayatus Salikin fi Suluki MaslakilMuttaqin, 1192 H/1778 M.
4.         Siyarus Salikin ila ‘Ibadati Rabbil ‘Alamin, 1194 H/1780 M-1203 H/1788 M.
5.         Al-‘Urwatul Wutsqa wa Silsiltu Waliyil Atqa.
6.         Ratib Sheikh ‘Abdus Shamad al-Falimbani.
7.         Nashihatul Muslimina wa Tazkiratul Mu’minina fi Fadhailil Jihadi wa Karaamatil Mujtahidina fi Sabilillah.
8.         Ar-Risalatu fi Kaifiyatir Ratib Lailatil Jum’ah
9.         Mulhiqun fi Bayani Fawaidin Nafi’ah fi Jihadi fi Sabilillah
10.      Zatul Muttaqin fi Tauhidi Rabbil ‘Alamin
11.      ‘Ilmut Tasawuf
12.      Mulkhishut Tuhbatil Mafdhah minar Rahmatil Mahdah ‘Alaihis Shalatu was Salam
13.      Kitab Mi’raj, 1201 H/1786 M.
14.      Anisul Muttaqin
15.      Puisi Kemenangan Kedah
7.    Abdus Shamad al-Palimbani Pulang ke Nusantara untuk Kedua Kalinya
Setelah perahu siap dan kelengkapan berlayar cukup, maka berangkatlah Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani dari Palembang menuju Mekah dengan beberapa orang muridnya. Selama di Mekah, beliau bergiat dalam pengajaran dan penulisan kitab-kitab dalam beberapa bidang pengetahuan keislaman, terutamanya tentang tasauf, fikah, usuluddin dan lain-lain.
Untuk menunjukkan sikap antinya kepada penjajah, dikarangnya sebuah buku tentang jihad. Buku yang penting itu berjudul Nasihatul Muslimin wa Tazkiratul Mu’minin fi Fadhail Jihadi fi Sabilillah wa Karamatul Mujtahidin fi Sabilillah.
Kegiatan-kegiatannya di bidang penulisan akan dibicarakan pada bagian lain.
Di sini terlebih dahulu diceritakan kepulangan beliau ke nusantara. Kepulangan Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani kali ini tidak ke Palembang tetapi ke Kedah. Saudara kandungnya Sheikh Wan Abdul Qadir bin Sheikh Abdul Jalil al-Mahdani ketika itu ialah Mufti Kerajaan Kedah. Seorang lagi saudaranya, Sheikh Wan Abdullah adalah pembesar Kedah dengan gelar Seri Maharaja Putera Dewa.
Meskipun Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani lama menetap di Mekah, namun hubungan antara mereka tidak pernah terputus. Sekurang-kurangnya mereka berkirim surat setahun sekali, yaitu melalui mereka yang pulang setelah melaksanakan ibadah haji.
Selain hubungan beliau dengan adik-beradik di Kedah, Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani turut membina hubungan dengan kaum Muslimin di seluruh Asia Tenggara. Pada zaman itu hampir semua orang yang berhasrat mendalami ilmu tasawuf terutama  Tarekat Sammaniyah, Tarekat Anfasiyah dan Tarekat Khalwatiyah menerima ilmu daripada beliau.
Beliau sentiasa mengikuti perkembangan di Tanah Jawi (dunia Melayu) dengan menanyakan kepada pendatang-pendatang dari Patani, Semenanjung Tanah Melayu, dan negeri-negeri Nusantara yang di bawah penjajahan Belanda (pada zaman itu masih disebut Hindia Belanda).
Ini terbukti dengan pengiriman dua pucuk surat kepada Sultan Hamengkubuwono I, Sultan Mataram dan kepada Susuhunan Prabu Jaka atau Pangeran Singasari Putera Amengkurat IV. Surat-surat tersebut jatuh ke tangan Belanda di Semarang (tahun 1772 M).
Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani telah lama bercita-cita untuk ikut serta dalam salah satu peperangan/pemberontakan melawan penjajah. Namun setelah dipertimbangkan, beliau lebih tertarik membantu umat Islam di Pattani dan Kedah melawan keganasan Siam yang beragama Budha.
Sebelum perang itu terjadi, Sheikh Wan Abdul Qadir bin Sheikh Abdul Jalil al-Mahdani, Mufti Kedah mengirim sepucuk surat kepada Sheikh Abdus Shamad di Mekah. Surat itu membawa maksud agar diumumkan kepada kaum Muslimin yang berada di Mekah bahawa umat Islam Melayu Pattani dan Kedah sedang menghadapi jihad mempertahankan agama Islam dan watan (tanah air) mereka.
Dalam peperangan itu, Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani memegang peranan penting dengan beberapa panglima Melayu lainnya. Ada catatan menarik mengatakan beliau bukan berfungsi sebagai panglima sebenarnya tetapi beliau bertindak sebagai seorang ulama sufi yang sentiasa berwirid, bertasbih, bertahmid, bertakbir dan berselawat setiap siang dan malam.
Banyak orang menuduh bahawa orang sufi adalah orang-orang jumud yang tidak menghiraukan dunia. Tetapi jika kita kaji beberapa biografi ulama sufi, termasuk Sheikh Abdus Shamad yang diriwayat ini adalah orang-orang yang bertanggungjawab mempertahankan agama Islam dan tanah air dari hal-hal yang dapat merosakkan Islam itu.
Golongan ini adalah orang yang berani mati dalam menegakkan jihad fi sabililah. Mereka tidak terikat dengan sanak keluarga, material duniawi, pangkat dan kedudukan dan sebagainya, mereka semata-mata mencintai Allah dan Rasul dari segala apa pun juga.
Kepulangan Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani ke Kedah memang pada awalnya bertekad demi jihad, bukan karena mengajar masyarakat mengenai hukum-hukum keislaman walaupun beliau pernah mengajar di Mekah. Akhirnya Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani dan rombongan pun berangkat menuju ke Pattani yang bergelar ‘Cermin Mekah’. Sayangnya kedatangan beliau agak terlambat, pasukan Pattani telah hampir lemah dengan keganasan Siam.
Sementara itu, Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan pengikut-pengikutnya telah mengundurkan diri ke Pulau Duyung, Terengganu untuk menyusun semula langkah perjuangan. Patani telah patah dan kekuatan lenyap dengan itu Sheikh Abdus Shamad pun berkhalwat di salah sebuah masjid di Legor. Ada orang mengatakan beliau berkhalwat di Masjid Kerisik yang terkenal dengan ‘Pintu Gerbang Hang Tuah’ itu.
Para pengikut tasawuf percaya di sanalah beliau menghilang diri tetapi bagi kalangan bukan tasawuf, perkara ini adalah mustahil dan mereka lebih percaya bahawa beliau telah mati dibunuh oleh musuh-musuh Islam.
8.    Wafatnya Abdus Shamad al-Palimbani
Dr M. Chatib Quzwain menulis dalam kertas kerja dan bukunya berjudul Mengenal Allah Suatu Studi Mengenal Ajaran Tasawuf Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani, halaman 180-181: Bahwa dalam tahun 1244 H/1828 M dikatakan umur Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani 124 tahun. Baik pendapat Dr. M Chatib Quzwain maupun pendapat Dr. Azyumardi Azra perlu disanggah berdasarkan fakta sejarah.
Azra menulis, “Meskipun saya tidak dapat menentukan secara pasti angka-angka tahun di seputar kehidupannya, semua sumber bersatu kata bahwa rentang masa hidup al-Palimbani adalah dari dasawarsa pertama hingga akhir abad kedelapan belas.
Al-Baythar menyatakan, Al-Palimbani meninggal setelah 1200/1785. Tetapi kemungkinan besar dia meninggal setelah 1203/1789,tahun ketika dia menyelesaikan karyanya yang terakhir dan paling masyhur, Sayr Al-Salikin. Ketika dia menyelesaikan karya ini, mestinya umurnya adalah 85 tahun.
“Dalam Tarikh Salasilah Negeri Kedah diriwayatkan, dia terbunuh dalam perang melawan Thai pada 1244/1828. Tetapi saya sukar menerima penjelasan ini, sebab tidak ada bukti dari sumber-sumber lain yang menunjukkan Al-Palimbani pernah kembali ke Nusantara. Lebih jauh lagi, waktu itu mestinya umurnya telah 124 tahun terlalu tua untuk pergi ke medan perang.
“Walaupun Al-Baythar tidak menyebutkan tempat di mana Al-Palimbani meninggal, ada kesan kuat dia meninggal di Arabia”.
Menurut Ustaz Wan Mohd Shaghir, sumber dari Al-Baythar yang menyebut tahun kewafatan Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani 1200 H/1785 M, seperti yang disebut oleh Dr. Azyumardi Azra itu adalah ditolak.
Dengan disebutkannya bahawa Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani wafat tahun 1200 H/1785 M adalah sebagai bukti bahawa Al-Baythar tidak banyak tahu tentang Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani. Bahkan tulisannya sendiri bertentangan antara satu sama lainnya.
Coba perhatikan kalimat Dr. Azyumardi Azra dalam buku yang sama halaman 250, “Al-Baythar meriwayatkan, pada 1201/1787 Al-Palimbani mengadakan perjalanan ke Zabid di mana dia mengajar murid-murid terutama dari keluarga Ahdal dan Al-Mizjadi”.
Bagaimana bisa terjadi, pada tempat lain Al-Baythar mengatakan Al-Palimbani wafat setelah 1200 H/1785 M. Di tempat yang lain disebutnya Al-Palimbani ke Zabid tahun 1201 H/1787 M. Oleh itu persoalan-persoalan lain yang bersumber dari Al-Baythar mengenai Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani yang menyalahi sumber-sumber yang telah dianggap benar oleh tradisi/mutawatir dunia Melayu ditolak juga.
Sumber wafat 1200/1785 M menurut Ustaz Wan Shaghir adalah tidak tepat karena menyalahi dengan tulisan Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani sendiri. Kitab-kitab yang dikarang/diselesaikan oleh Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani sesudah tahun 1200 H/1785 M itu ialah Risalah Isra’ wa Mi’raj, yang dicatat oleh Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani sendiri selesai menulisnya pada tahun 1201 H, kira-kira bersamaan 1786/87 M. Umumnya, juga diketahui ialah Siyarus Salikin jilid ke-IV, diselesaikan pada malam Ahad, 20 Ramadhan 1203 H di Taif, kira-kira bersamaan tahun 1789 M.
Pendapat Dr. Azyumardi Azra pada kalimatnya, “Ketika dia menyelesaikan karya ini, mestinya umurnya adalah 85 tahun”,  tertolak karena tahun kelahiran Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani yang dikemukakan oleh kedua sarjana tersebut ternyata salah seperti yang telah disebutkan sebelum ini.
Banyak yang menduga kewafatan Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani tahun 1203 H/1789 M.
Malah menurut Ustaz Wan Shaghir lagi, beliau tetap yakin bahawa Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani memang terlibat langsung dalam peperangan di antara Kedah-Patani melawan Siam yang terjadi jauh sesudah tahun 1203 H/1789 M itu. Ini berdasarkan cerita yang mutawatir, dikuatkan sebuah manuskrip salinan Haji Mahmud bin Muhammad Yusuf Terengganu murid Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani, telah diketemukan kubur beliau dan lain-lain yang perlu dikaji dengan lebih teliti.
Dr. M. Chatib Quzwain menyebut bahawa kubur Sheikh Abdus Samad al-Palimbani di Palembang, Dr. Azyumardi Azra pula menyebut, “ada kesan kuat dia meninggal di Arabia”, kedua-dua pendapat tersebut bertentangan dengan Al-Tarikh Silsilah Negeri Kedah. Juga bertentangan dengan cerita populer masyarakat Islam di Kedah, di Patani, Banjar, Mempawah/Pontianak dan tempat-tempat lain yang ada hubungan pertalian penurunan keilmuan tradisional Islam dunia Melayu.
Selain itu, bertentangan pula dengan manuskrip Al-Urwatul Wutsqa karya Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani yang disalin oleh Haji Mahmud bin Muhammad Yusuf Terengganu, salah seorang murid Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani. Bertentangan pula dengan pembuktian bahawa diketemukan kubur Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani di perantaraan Kampung Sekom dengan Cenak termasuk dalam kawasan Tiba, yaitu di Utara Patani.
Menurut Ustaz Wan Shaghir lagi, tidak dipastikan sumber manakah yang digunakan oleh Dr. Azyumardi Azra yang menyebut, “ada kesan kuat dia meninggal di Arabia” itu.

B.       SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI (KALIMANTAN)
1.    Biografi Muhammad Arsyad al-Banjari
Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dilahirkan pada hari Kamis, 25 Syafar 1122H bertepatan dengan tanggal 19 Maret 1710M. Ayahnya bernama Abdullah bin Abu Bakar bin Abdurrasyid (Abdul Harits) bin Abdullah. Ibunya bernama Aminah. Keluarga tersebut tinggal di Kampung Lok Gabang, sekarang termasuk wilayah Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, dekat dengan Kota Martapura, Kalimantan Selatan. Pada masa itu, raja yang memerintah Kerajaan Banjar adalah Sultan Hamidullah atau Sultan Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah.
Muhammad Arsyad kecil bernama Ja’far. Saudara-saudaranya, Abidin, Zainal Abidin, Nurmein dan Nurul Amin. Selagi Syeikh Muhammad Arsyad berada di dalam rahim ibunya, pada malam bulan Ramadhanm ibu beliau berserta suaminya mendapatkan malam penuh berkah, Lailatul Qadar.
Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari wafat hari Selasa, 6 Syawal 1227H bertepatan dengan tanggal 13 Oktober 1812M. Dimakamkan di Desa Kalampayan, tidak jauh dari makam orang tuanya.
2.    Pendidikan Muhammad Arsyad al-Banjari
Sejak kecil, Muhammad Arsyad mendapat pendidikan langsung dari orang tuanya. Ketika beliau berumur 7 tahun, Raja Banjar yang memerintah waktu itu, Sultan Hamidullah atau Sultan Tahlilullah sangat tertarik melihat kelebihan Muhammad Arsyad. Baginda meminta kepada kedua orang tua Muhammad Arsyad agar mengizinkan anaknya dipelihara serta dididik di lingkungan Istana Berajaan Banjar. Kedua orang tua Muhammad Arsyad tidak keberatan dan menyerahkan anaknya dibawa ke istana. Sejak itulah Muhammad Arsyad mendapat didikan dari para guru yang mengajar di Istana Kerajaan Banjar.
Muhammad Arsyad sangat disayangi oleh seluruh kalangan istana karena akhlak dan budi pekertinya yang halus serta adab sopan santun yang mulia. Setelah dewasa, sultan menikahkannya dengan wanita shalihah bernama Bajut.
Sekalipun baru menikah, Muhammad Arsyad telah berniat untuk pergi ke Makkah al-Mukarramah, tempat kelahiran Islam. Setelah bermusyawarah dengan istrinya, Muhammad Arsyad kemudian meminta restu dari sultan. Sudah barang tentu baginda amat terharu mendengar keinginannya tersebut. Setelah sekian lama berkumpul dan membesarkannya, sekarang harus berpisah. Namun mengingat cita-cita luhurnya, masa depan agama serta Masyarakat Banjar khususnya, baginda akhirnya merelakan kepergian Muhammad Arsyad untuk pergi menuntut ilmu.
Di Makkah, Muhammad Arsyad mendapat kesempatan mempelajari disiplin ilmu agama, hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk belajar. Muhammad Arsyad termasuk ulama yang memiliki pandangan yang seimbang (moderat) antara ilmu syari’at dan ilmu hakikat.
3.    Para Guru dan Sahabat Muhammad Arsyad al-Banjari
Muhammad Arsyad mendapat kesempatan mengaji dan belajar beberapa disiplin ilmu kepada para Syeikh dan Guru atau Ulama yang masyhur pada masa itu, di antaranya:
1.        ‘Alimul ‘Allamah Syeikh Atha’illah bin Ahmad al-Mishri al-Azhari, di Makkah.
2.        Syeikh al-Islam Imam al-Haramain ‘Alimul ‘Allamah Syeikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, di Madinah.
3.        Khusus dalam bidang Tasawuf, Muhammad Arsyad belajar kepada Sayyid al-Arif Billah Syeikh Muhammad bin Abdul Karim al-Qadiry al-Hasani, yang masyhur dikenal dengan nama Syeikh Muhammad Samman al-Madany, di Madinah.
4.        Syeikh Ahmad bin Abdul Mun’im ad-Damanhuri.
5.        Syeikh Sayyid Abi al-Faidl Muhammad Murtadha bin Muhammad az-Zabidy.
6.         Syeikh Hasan bin Ahmad Akisy al-Yamany.
7.        Syeikh Salim bin Abdullah al-Bashry.
8.         Syeikh Shiddiq bin Umar Khan.
9.        Syeikh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawy.
10.    Syeikh Abdurrahman bin Abdul Aziz al-Maghrabi.
11.     Syeikh Sayyid Abdurrahman bin Sulaiman al-Ahdal.
12.     Syeikh Abdurrahman bin Abdul Mubin al-Fathani. Beliau adalah seorang sahabat karib Syeikh Muhammad Samman al-Madany, bahkan makam beliau bersebelahan dengan makam Syeikh Muhammad Samman al-Madany.
13.    Syeikh Abdul Ghani bin Syeikh Muhammad Hillal.
14.    Syeikh Abid as-Sandi.
15.    Syeikh Abdul Wahhab ath-Thanthawy.
16.    Syeikh Maulana Sayyid Abdullah Mirgani.
17.    Syeikh Muhammad bin Ahmad al-Jauhari.
18.     Syeikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Aceh, pengarang Kitab Bidayatul Hidayah.
Disamping itu, ada beberapa ulama yang banyak mengeluarkan sanad, silsilah kitab atau ilmu yang diajarkan, di antaranya:
1.        Syeikh Sayyid Abi al-Faidl Muhammad Murtadha bin Muhammad az-Zabidy.
2.        Syeikh Sayyid Abdurrahman bin Sulaiman al-Ahdal.
3.        Syeikh Salim bin Abdullah al-Bashry.
4.        Syeikh Hasan bin Ahmad Akisy al-Yamany.
Dalam bidang Tasawuf, Muhammad Arsyad mendapat bimbingan langsung khalwatnya dari Syeikh Muhammad bin Abdul Karim al-Qadiry al-Hasani as-Samman al-Madany, dan mendapat ijazah serta kedudukan sebagai khalifah.
Para sahabatnya selama menuntut ilmu dan bermudzakarah dalam berbagai bidang ilmu di anataranya adalah:
1.        Syeikh Abdush-Shamad, Palembang.
2.        Syeikh Abdurrahman Masri, Banten.
3.        Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.
4.        Syeikh Muhammad Shaleh bin Umar as-Samarani, Semarang.
5.        Syeikh Abdul Wahab Sadengreng Bunga Wardiyah Bugis, yang terkenal dengan Abdul Wahab Bugis, selain menjadi sahabat, juga menjadi salah seorang menantu Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
6.        Selain mereka tersebut di atas, masih ada lagi sahabat Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari yang bernama Syeikh Abdush Shamad Sirajul Huda, yang masyhur dengan sebutan Datu Sanggul. Bahkan ada pula sahabat sekaligus murid Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari selama di Makkah, yang ikut pulang ke Indonesia. Sahabat ini berasal dari bangsa jin yang masyhur dikenal dengan nama Badekok al-Mina atau Datu Boddok.
4.    Karya-Karya Muhammad Arsyad al-Banjari
Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari banyak membuat tulisan, baik berupa lembaran maupun kitab dalam berbagai bidang ilmu seperti Tauhid, Fiqih, Tasawuf dan lainnya. Di antara kitab-kitab yang ditulisnya adalah:
1.     Kitab Ushuluddin, semacam Kitab Sifat Dua Puluh.
2.     Kitab Luqtatul Ajlan, kitab yang menguraikan hukum-hukum mengenai masalah kewanitaan.
3.     Kitab Fara’idh, yang menguraikan masalah pembagian harta warisan.
4.     Kitab Ilmu Falaq.
5.     Kitab an-Nikah, yang menguraikan tentang hukum-hukum pernikahan.
6.     Kitab Kanzul Ma’rifah, yang menguraikan tentang Ilmu Tasawuf atau Ilmu Hakikat Pengendalian Diri dan Allah.
7.     Fatawa Sulaiman Kurdi.
8.     Kitab Sabilal Muhtadin, kitab ini sangat masyhur bahkan sampai ke luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Fathani dan lainnya. Kitab ini berisi tentang masalah Ilmu Fiqih, ditulis sekitar tahun 1192 H atau 1777 M.
9.     Kitab Tuhfatul Raghibin, ditulis pada tahun 1188H atau 1774M dengan nama asli “Tuhfaturraghibin fi Bayan Haqiqat al-Mu’minin wa ma Yufsidu min Riddatul Murtadin”. Kitab ini telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia, berisi tiga bab dan khatimah, berbicara penguraian masalah Aqidah, kepercayaan yang haq dan bathil atau hakikat iman yang benar, serta hal-hal yang bisa merusak iman. Sebagian orang meragukan apakah kitab ini asli karya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, hal ini disebabkan isinya relatif bertolak belakang dengan adat kepercayaan sebagian Masyarakat Kalimantan.


DAFTAR PUTAKA
Arifin Miftah, Sufi Nusantara, Biografi, Karya Intelektual & Pemikiran Tasawuf: Ar-Ruzz Media, 2013
Azra, Azyumardi (2004). Edisi Revisi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Prenada Media.
Muslich Shabir. Pemikiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari tentang zakat: suntingan teks dan analisis intertekstual. Nuansa Aulia, 2005.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar