BAB I
PENDAHULUAN
Menurut
al-Dzahabi, istilah sufi mulai dikenal pada abad ke-2 Hijriyah, tepatnya tahun
150 H. Orang pertama yang dianggap memperkenalkan istilah ini kepada dunia
Islam adalah Abu Hasyim al-Sufi atau akrab disebut juga Abu Hasyim al-Kufi.
Tetapi pendapat lain menyebutkan bahwa tasawuf baru muncul di dunia Islam pada
awal abad ke-3 hijriyah yang dipelopori oleh al-Kurkhi, seorang masihi asal
Persia. Tokoh ini mengembangkan pemikiran bahwa cinta (maẖabbah) kepada
Allah adalah sesuatu yang tidak diperoleh melalui belajar, melainkan karena
faktor pemberian (mauhibah) dan keutamaan dari-Nya. Adapun tasawuf baginya adalah
mengambil kebenaran-kebenaran hakiki. Tesis ini kemudian menjadi suatu asas
dalam perkembangan tasawuf di dunia Islam. Beberapa tokoh lainnya yang muncul
pada periode ini adalah al-Suqti (w. 253 H), al-Muhasibi (w. 243 H) dan Dzunnun al-Misri (w. 245
H).
Tasawuf kemudian semakin berkembang
dan meluas ke penjuru dunia Islam pada abad ke-4 H dengan sistem ajaran yang
semakin mapan. Belakangan, al-Ghazali menegaskan tasawuf atau maẖabbatullah
(cinta kepada Allah) sebagai keilmuan yang memiliki kekhasan tersendiri di
samping filsafat dan ilmu kalam. Pada abad ke-4 dan ke-5 hijriyah inilah
konflik pemikiran terjadi antara kaum sufi dan para fuqaha’. Umumnya, kaum sufi
dengan berbagai tradisi dan disiplin spiritual yang dikembangkannya dipandang
oleh para fuqaha’ sebagai kafir, zindiq dan menyelisihi aturan-aturan syari’at.
Konflik ini terus berlanjut pada abad berikutnya, terlebih lagi ketika corak
falsafi masuk dalam tradisi keilmuan tasawuf dengan tokoh-tokohnya seperti Ibn
al-’Arabi dan Ibn al-Faridh pada abad ke-7 H. Realitas inilah yang kemudian
menimbulkan pembedaan dua corak dalam dunia tasawuf, yaitu antara tasawuf
‘amali (praktis) dan tasawuf nazari (teoritis). Tasawuf praktis atau yang disebut
juga tasawuf sunni atau akhlaki merupakan bentuk tasawuf yang memagari diri
dengan al-Qur’an dan al-Hadits secara ketat dengan penekanan pada aspek amalan
dan mengaitkan antara ahwal dan maqamat. Sedangkan tasawuf teoritis atau juga
disebut tasawuf falsafi cenderung menekankan pada aspek pemikiran metafisik
dengan memadukan antara filsafat dengan ketasawufan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
TASAWUF
secara
etimologis tasawuf diambil dari kata “Suffah” yaitu sebuah tempat di mesjid
Rasulullah Saw. (Mesjid Nabawi) yang dihuni oleh sekelompok sahabat yang hidup
zuhud yang konsentrasi beribadah kepada Allah sambl menimba ilmu dari
Rasulullah. Teori kedua, menyatakan bahwa tasawuf diambil dari kata “sifat”
dengan alasan bahwa para sufi suka membahas sifat-sifat Allah sekaligus
mengaplikasikan sifat-sifat Allah tersebut dalam perilaku mereka sehari-hari.
Teori ketiga berpendapat bahwa kata “tasawuf” daiambil dari akar kata “sufah”
artinya selembar bulu, sebab para sufi dihadapan Tuhannya merasa begaikan selembar
bulu yang terpisah dari kesatuannya yang tidak mempunyai nilai apa-apa. Teori
keempat menyatakan bahwa “tasawuf” diambil dari kata “shofia” yang artinya
al-hikmah (bijaksana) sebab para sufi selalu mencari hikmah ilahiyah dalam
kehidupannya. Teori kelima, sebagaimana dikemukakan oleh al-Busti seorang fakar
tasawuf, menyatakan bahwa taswuf berasal dari kata “as-safa” yang artinya suci,
bersih dan murni, sebab para sufi membersihkan jiwanya hingga berada dalam
kondisi suci dan bersih. Ada juga teori yang menyatakan bahwa tasawuf berasal
dari akar kata “suf” yang artinya bulu domba (wool), dengan argumentasi wool
kasar yang terbuat dari bulu binatang sebagai tanda kesederhanaan hidup mereka.
Diantara berbagai pendapat tenang asal usul “taswuf”
menrut Ahmad as-Sirbasi, pendapat al-Bustilah yang paling kuat dan rajih, sebab
kenyataannya tasawuf itu adalah upaya pensucian hati supaya dekat dengan Allah.
Dilihat dari tujuannya, seperti telah disinggung di atas,
tasawuf adalaha proses pendekatan diri kepada Allah dengan cara mensucikan hati
(tashfiat al-Qalbi).
secara Terminologis Menurut Muhammad bin Ali al-Qasab, guru Imam Junaidi
al-Bagdadi, tasawuf adalah akhlak mulia yang nampak di zaman yang mulia dari
seorang manusia mulia bersama kaum yang mulia.
Sedang
menurut al-Junaidi al-bagdadi (W. 297 H) tasawuf adalah :
“Engkau ada bersama Allah tanpa ‘alaqah (tanpa
perantara)”.
Usman al-Makki berpendapat bahwa tasawuf adalah keadaan
dimana seorang hamba setiap waktu melakukan perbuatan (amal) yang lebih baik
dari waktu sebelumnya.
Sirri as-Saqati (W. 251 H) berkata : “Tasawuf adalah
suatu nama bagi tiga makna : yakni (1) nur ma’rifat nya tidak memadamkan cahaya
kewaraannya, (2) tidak berbicara tentang ilmu batin yang bertentangan dengan
makna zahir al-Kitab atau sunnah, dan (3) tidak terbawa oleh karomahnya untuk
melanggar larangan Allah”.
Syekh Abdul Qodir al-Jilani berpendapat bahwa taswuf
adalah mensucika hati dan melepaskan nafsu dari pangkalnya dengan kholwah,
riyadoh dan terus-menerus berdzikir dengan dilandasi iman yang benar, mahabbah,
taubat dan ikhlas.
Sedangkan ilmu tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui
keadaan jiwa manusia, terpuji atau tercela, bagaimana cara-cara mensucikan jiwa
dari berbagai sifat yang tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji
dan bagaimana cara mencapai jalan menuju Allah.
Tasawuf menurut pengertian bahasa Arab dalam bahasa arab istilah Tasawuf terdiri atas
empat huruf yaitu Ta’, Shad, Waw dan Fa’. Huruf Ta’ berarti
Taubah. Taubat adalah langkah pertama dalam perjalanan menuju Allah. Taubat ini
terbagi menjadi dua bagian, yaitu zahir dan batin langkah zahir dalam bertaubat
dilakukan melalui perkataan, perbuatan dan perasaan, yaitu dengan cara
membersihkan diri dari dosa dan noda, lebih banyak mentaati perintah Allah
berbuat dan berniat tanpa terlebih dahulu muncul sifat khawf (takut) dan
raja’ (harapan) dalam diri orang yang menjalani Tasawuf.
Taubat ruhani atau taubat batin peranannya ada di dalam
hati. adalah membersihkan dan menyucikan hati dari keinginan-keinginan duniawi
yang diimbangi dengan kesungguhan serta penuh harap untuk mencapai dan mengenal
Allah.
Shad, tingkatan ini juga terbagi menjadi dua langkah yang perlu dilaksanakan. Pertama,
langkah menuju pembersihan hati. Kedua, langkah menuju pusat
rahasia.
Waw bermakna wilayah (kewalian), yaitu keadan kudus dan hening yang ada
pada jiwa kekasih Allah dan Waliyullah. Keadaan ini tergantung pada
kesucian seseorang.
Fa’ yang melambangkan fana’, yaitu penghapusan dan pengosongan diri dari
segala rupa dan bentuk. Kekosongan inilah yang dituntut ada dalam diri manusia.
Tegasnya, kebatilan (kepalsuan) akan musnah bila sifat-sifat ketuhanan
datang ke dalam diri seseorang. Jika sifat dan pikiran tentang dunia yang
sangat banyak itu lenyap dari hati seseorang, keesaan dan kesatuan (dengan
Allah) akan menggantikannya.
B. PERKEMBANGAN
TASAWUF
Secara
keilmuan, tasawuf adalah disiplin ilmu yang baru dalam syari’at Islam, demikian
menurut Ibnu Khaldun. Adapaun asal-usul tasawuf menurutnya adalah konsentrasi
ibadah kepada Allah, meninggalkan kemewahan dan keindahan dunia dan menjauhkan
diri dari akhluk. Ketika kehidupan materialistik mulai mencuat dalam peri
kehidupan masyarakat muslim pada abad kedua dan ketiga hijriyyah sebagai akibat
dari kemajuan ekonomi di dunia Islam, orang-orang yang konsentrasi beribadah
dan menjauhkan diri dari hiruk pikuknya kehidupan dunia disebutlah kaum sufi.
Berbeda
dengan Ibnu Khaldun, Muhammad Iqbal dalam bukunya “Tajdid al-Fikr ad-Dini
al-Islam” berpendapat bahwa tasawuf telah ada semenjak Nabi. Riyadoh
Diniyyah telah lama menyertai kehidupan manusia sejak awal-awal Islam bahkan
kehidupan ini semakin mengental di dalam sejarah kemanusiaan.
Menurut
sebagian fakar, Imam Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang memunculkan
istilah taswuf. Menurut yang lain Salman al-Farisi. Menurut pendapat yang lain
Hudzaefah bin al-Yaman sebab Hasan Basri (tokoh sufi di abad kedua Hijriyyah)
berguru kepada Hudzefah.
C. AKAR TASAWUF
Akar-akar
tasawuf dalam Islam merupakan penjabaran dari ihsan. Ihsan sendiri merupakan
bagian dari trilogi ajaran Islam. Islam adalah satu kesatuan dari iman, islam
dan ihsan. Islam adalah penyerahan diri kepada Allah secara zahir, iman adalah
I’tikad batin terhadap hal-hal gaib yang ada dalam rukun iman, sedangkan ihsan
adalah komitmen terhadap hakikat zahir dan batin.
Islam,
iman dan ihsan adalah landasan untuk melakukan suluk dan taqqarub kepada Allah.
‘Iz bin Abdissalam berpendapat bahwa sistematika keberagamaan bagi kaum
muslimin, yang pertama adalah Islam. Islam merupakan tingkat pertama beragama
bagi kaum awam. Iman adalah tingkatan pertama bagi hati orang khusus kaum
mukminin, sedangkan ihsan adalah tingkatan pertama bagi ruh kaum muqarribin.
D. MAKNA TASAWUF
FALSAFY
Tasawuf
falsafi, yaitu tasawuf yang ajaran-ajaranya memadukan antara visi intuitif dan
visi resional. Terminology filosofis yang digunakan berasal dari bermacam-macam
ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya, namun orisinalitasnya
sebagai tasawuf tetap tidak hilang. Walaupun demikian tasawuf filosofis tidak
bisa di pandang sebagai filsafat, karena ajaran daan metodenya di dasarkan pada
dasar dzauq, dan tidak pula bisa di kategorikan pada tasawuf (yang murni)
karena sering di ungkapkan dengan bahasa filsafat.
Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang didasarkan kepada
gabungan teori-teori tasawuf dan filsafat atau yang bermakana mistik metafisis,
karakter umum dari tasawuf ini sebagaimana yang telah dikemukakan oleh
Al-Taftazani bahwa tasawuf seperti ini: tidak dapat dikatagorikan sebagai
tasawuf dalam arti sesungguhnya, karena teori-teorinya selalu dikemukakan dalam
bahasa filsafat, juga tidak dapat dikatakan sebagai filsafat dalam artian yang
sebenarnya karena teori-teorinya juga didasarkan pada rasa. Hamka menegaskan
juga bahwa tasawuf jenis tidak sepenuhnya dapat dikatakan tasawuf dan begitu
juga sebaliknya.
Tasawuf seperti ini dikembangkan oleh ahli-ahli
sufi sekaligus filosof. Oleh karena itu, mereka gemar terhadap ide-ide
spekulatif. Dari
kegemaran berfilsafat itu, mereka mampu menampilkan argumen-argumen yang kaya
dan luas tentang ide-ide ketuhanan.
Sehingga dalam upaya mengungkapkan
pengalaman rohaninya, para shufi falsafi sering menggunakan ungkapan-ungkapan
yang samar, yang sering di kenal dengan syathahiyyat, yaitu suatu ungkapan yang
sulit difahami, yang seringkali mengakibatkan kesalahpahaman pihak luar, dan
menimbulkan tragedy.
E. CIRI-CIRI
TASWUF FALSAFY
Adapun yang menjadi
ciri-ciri Umum Tasawuf Falsafi antara lain:
1.
Adanya latihan rohani yang didasakan pada rasa (dzauq), Intuisi, dan
introspeksi diri yang timbul darinya
2.
Hakekat yang tersingkap dari alam ghaib
3.
Peristiwa dalam alam berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan
4.
Ungkapan yang berbentuk samar
Sedangkan yang menjadi ciri-ciri khusus dari Tasawuf
Falsafi antara lain :
1.
Mengkonsepsikan ajaran-ajaran dengan menggabungkan antara rasional dan
perasaan
2.
Mendasarkan pada latihan-latihan ruhaniah (riyadah)
3.
Iluminasi atau bayangan sebagai metode untuk mengatahui berbagai
hakekat, yang menurut penganutnya bisa dicapai dengan fana’
4.
Selalu menyamarkan ungkapan-ungkapan tentang hakekat realitas-realitas
dengan berbagai simbol atau terminologi
a.
Ajarannya samar-samar akibat banyaknya ungkapan dan peristilahan khusus
yang hanya bisa dipahami pada tasawuf jenis ini
b.
Metode ajarannya didasarkan pada rasa (dzauq) dan rasional dengan
berdasarkan akal.
c.
Ajaran-ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa-bahasa dan terminologi
filsafat, dan cenderung mendalam ke dalam panteisme ( teori yang berpendapat
bahwa segala sesuatu merupakan perwujudan Tuhan)
d.
Di dasarkan pada latihan-latihan ruhaniyah (riyadah), yang dimaksudkan sebagai
peningkatan moral untuk mencapai kebahagiaan
e.
Iluminasi sebagai metode untuk mengetahui berbagai hakekat realitas
F. OBJEK TASWUF
FALSAFY
Falsafat yang mendasari taswuf adalah Allah
swt. Zat yang bersifat rohani atau imateri dan Maha Suci. Zat yang demikian
tidak bisa didekati kecuali oleh yang bersifat rohani pula dan dalam pada itu
harus pula suci, maka yang akan dapat mendekatkan diri kepada Allah adah ruh
manusia, dan bukan tubuhnya, yang mempunyai hawa nafsu itu.
Ruh sebelum masuk ketubuh memang suci, tetapi
setelah bersatu dengan tubuh bisa, bahkan acapkali, menjadi kotor karena digoda
hawa nafsu tubuh. Maka agar bisa mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Suci,
Ruh manusia harus terlebih dahulu disucikan. Sufi-sufi besar telah merintis
jalan untuk penyucian jiwa itu yang dikenal dengan nama Thoriqoh, jalan,
yang mempunyai maqamat, stasion-stasion. Di stasion-stasion inilah,
ornag yang ingin menjadi sufi membersihkan diri dari kotoran-kotoran yang
melekat padanya.
Ibnu
Khaldun berendapat bahwa objek utama yang menjadi perhatian tasawuf falsafi ada
empat perkara. Keempat perkara itu adalah sebagai berikut:
1.
Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta intropeksi
diri yang timbul dari dirinya.
2.
Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib,
misalnya sifat-sifat rabbani, ‘arasy, kursi, malaikat, wahyu kenabian, ruh,
hakikat realitas segala yang wujud, yang gaib maupun yang nampak, dan susunan
yang kosmos, terutama tentang penciptanya serta penciptaannya.
3.
Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang
brepengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.
4.
Penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas
samar-samar (syatahiyyat) yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat
berupa mengingkarinya, menyetujui atau menginterpretasikannya.
G. CONTOK TASWUF
FALSAFY
Diantara
contoh-contoh Tasawuf Falsafi adalah sebagai berikut:
Mistical
paradigma obyeknya taswuf seperti :
a.
Cinta, rindu dll
b.
Mukjizat
c.
Santet, pelet (sangat berpengaruh terhadap masyarakat
seperti para artis yang ingin dikenal dengan memasang susuk di tubuhnya)
H. TOKOH TASAWUF
FALSAFI DAN AJARANNYA
Diantara Tokoh-tokoh Tasawuf Falsafi “Abu Yazid
al-busthami, al-Hallaj, Ibn Arabi, dan sebagainya.
1.
Abu Yazid al-Busthami mempunyai teori al-Ittihad,
yaitu suatu tingkatan dalam tasawuf di mana seorang shufi telah merasa dirinya
bersatu dengan Tuhan, suatu tingkatan dimana yang mencintai dan yang dicintai
telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu
lagi deengan kata-kata : “hai aku”. Dalam al-Ittihad identitas telah menjadi satu.
Salah satu
Syathiyat yang di ungkapan al-Busthami ialah :
a.
“tiada tuhan selain aku, maka sembahlah aku”.
b.
“maha suci aku,
maha suci aku, alangkah agungnya keadaan-ku”.
c.
“tidak ada sesuatu dalam bajuku ini kecuali
Allah”.
2.
Tokoh lainnya ialah al-Hallaj dengan
ajaran al-Hululnya, yaitu suatu faham yang mengatakan bahwa tuhan
memilih tubuh-tubuh manusia tertentu mengambil tempat (hulul) di dalamnya,
setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan.
Menurut al-Hallaj dalam diri manusia terdapat
dua unsur, yakni unsur Nasut (kemanusiaan), dan unsure Lahut (ketuhanan),
karena itu persatuan antara tuhan dan manusia bisa terjadi dan dengan persatuan
itu mengambil bentuk hulul.
Al-Hallaj juga mengungkapkan syathahiyat
sebagaimana di ungkapkan al-Busthami, seperti : “aku adalah yang haq”.
Karena ungkapannya yang di anggap menyimpang dari tauhid inilah, dan tuduhan
bekomplot dengan syi’ah Qaramithah, maka dia di jebloskan ke dalam keputusan
pengadilan fuqaha’ yang sepihak dan berkolusi dengan pemerintahan al-Muqtadir
Billah. Dia di jatuhi hukuman mati.
3.
Teori Hulul ini di kembangkan labih jauh oleh Ibn
Arabi dengan teori Wahdatul Wujud. Dalam teori ini, Ibn Arabi
merubah Nasut dalam hulul menjadi al-Khaliq dan Lahut menjadi al-Haq. Kedua
unsure tersebut pasti ada pada setiap makhluk yang ada ini , sebagai aspek
batin, Ibn Arabi mengungkapkan : “ maha suci dzat yang menciptakan segala
sesuatu, dan dia adalah essensinya sendiri”.
Paham yang di bawa oleh para shufi falsafi
membawa pro dan kontra, karena perbedaan latar belakang sudut tinjauan dan
pisau analisianya. Dalam dunia tasawuf di kenal istilah fana’ dan baqa’
sebagaimana telah di uraikan di depan. Ketika seseorang telah mencapai keadaan
demikian, seorang shufi telah mencapai puncak tujuan yang di inginkannya, yakni
ma’rifat dan hakikat, sehingga muncul kesadaran bahwa al-ma’rifah
(pengetahuan), al-Arif (orang yang mengetahui), dan al-Ma’ruf (yang di
ketahui/tuhan) adalah satu.
Orang yang telah mencapai ma’rifat, hatinya
bersih, dia akan merenungi sifat-sifat tuhan, bukan pada essensi-Nya, karena
dalam ma’rifat masih ada sia-sia kegandaan yang masih tertinggal. Sifat utama
Tuhan adalah ketuhanan dan kesatuan ilahi merupakan prinsip ma’rifat yang
pertama dan yang terakhir.
Tuhan bagi shufi difahami sebagai Dzat yang esa
yang mendasari seluruh peristiwa. Prinsip ini membawa konsekuensi yang ekstrim.
Apabila tiada sesuatu yang mewujudkan selain Tuhan, maka seluruh alam pada
dasarnya adalah satu dengan-Nya, apakah ia di pandang emanasi yang berkembang
dari pada-Nya, tanpa mengganggu ke esaan-Nya, sebagaimana halnya bekas sinar
matahari atau apakah ia berlaku seperti cermin dengan mana sifat-sifat Allah dipancarkan.
Konsep inilah yang mendasari para shufi falsafi mempunyai pandangan tersebut di
atas.
Dengan analisis seperti ini, maka hasil yang
diperoleh oleh para shufi falsafi sebagaimana telah di ungkapkan adalah sesuatu
yang wajar saja, dan suatu konsekuensi logis. Namun apabila didekati dengan
fiqih dan ilmu kalam, adalah jenis hal tersebut di anggap suatu yang
menyimpang, karena antara khalik dan makhluk, antara ‘abid dan ma’bud tidak
bisa di satukan.
I.
INTRENALISASI TASWUF DALAM KEHIDUPAN
SEHARI-HARI
a.
pembinaan
aspek moral;
b.
ma’rifatullah melalui metode kasyf al-hijab
c.
Metode pengenalan dan
hubungan kedekatan antara Tuhan dan makhluk. Dekat dalam hal ini dapat berarti:
merasakan kehadiran-Nya dalam hati, berjumpa dan berdialog dengan-Nya, ataupun
penyatuan makhluk dalam iradah Tuhan.
BAB III
SIMPULAN
Dari materi-materi yang dijelaskan di atas mengenai pembahasan tasawuf
falsafi, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.
Tasawuf Falsafi adalah
sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma’rifat) dengan pendekatan rasional (filsafat)
hingga menuju ketingkat yang lebih tinggi,
bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi
dari itu yaitu wahdat al- wujud (kesatuan wujud).
2.
Tokoh-tokoh tasawuf falsafi serta ajaran-ajarannya antara lain yaitu:
a.
Abu Yazid al-Busthami al-Ittihad.
b.
al-Hallaj al-Hululnya.
c.
Ibn Arabi Wahdatul
Wujud.
Jadi yang menjadi karakteristik dari tasawuf falsafi adalah ajarannya lebih mengarah pada teori-teori yang
rumit dan memerlukan pemahaman yang lebih mendalam, mengedepankan akal,
ajarannya memadukan antara visi mistis dan rasional.
DAFTAR PUSTAKA
Thohir Ajid “Disertasi historisitas dan signifikasi
kitab manaqib syekh abdul qodir al-jilany
dalam hitoriografi islam :329-331.
Syekh Abdul Qadir Al-Jilani Rahasia Sufi Pustaka
Sufi, 2006: 88-93.
Alba Cecep, Cahaya
Tasawuf Gwika Wahana Karya Grafika, 2009: 1-4, 8-12.
As-Sarraj Abu Nashr, Al-Luma’ Rujukan Lengkap Ilmu
Tasawuf Risalah Gusti, 2009: 53.
Nasution Harun, Thoriqot Qodiriyyah Naqsyabandiyyah.
Sejarah asal-usul dan perkembangannya, IAILM, 1990: xvii, 3-21.
http://zaky-khal.blogspot.co.id/2012/06/latar-belakang-munculnya-tasawuf.html dikutip pada bulan Oktober 2015.
http://kangobed.blogspot.com/2013/05/macam-macam-tasawuf.html dikutip pada bulan Oktober 2015.
http://mujib-ennal.blogspot.com/2012/11/macam-macam-aliran-tasawuf.html dikutip pada bulan Oktober 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar